Inilah Penyebab Pengantin Baru Sulit Beradaptasi

24 October 2012 | 01:48

Sulit adaptasi seringkali melanda pasangan pengantin baru. Sulit adaptasi di awal pernikahan memang wajar tetapi tetap harus dicari penyebabnya. Karena menyatukan dua sosok manusia yang mempunyai visi, misi, budaya dan pikiran yang berbeda tentunya tidak mudah. Kemampuan beradaptasi satu orang dengan orang yang lain tentunya berbeda tergantung dengan banyak hal di sekitarnya.Ada yang bisa langsung mudah beradaptasi dengan kehidupan berumah tangga dan ada yang masih terkesan “jetlag”. Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengatasi adaptasi yang kurang lancar? Jika Anda akan menjalankan kehidupan baru, sebaiknya Anda mencari tahu penyebabnya agar bisa menghindari hal tersebut. Berikut adalah beberapa penyebab sulitnya adaptasi:

Sulit adaptasi

Pertama, berprasangka buruk. Jika Anda dan pasangan tidak pernah berbicara dari hati ke hati, maka prasangka buruk akan mudah sekali datang dan mengusik keharmonisan keluarga Anda. Hal ini akan semakin diperparah jika Anda dan pasangan mempunyai budaya yang berbeda. Misalnya Anda terbiasa berbicara dengan lemah lembut sedangkan suami Anda terbiasa berbicara dengan suara keras. Nah, suara suami Anda yang keras dan tegas bisa Anda salah artikan sebagai ekspresi kemarahan dan ketidaksukaan, padahal seenarnya tidak begitu. Untuk itulah, Anda harus bisa membuka komunikasi dengan lancar dengan pasangan. Jangan suka berpikiran negative karena hanya akan menjadikan diri Anda sebagai istri yang memendam dendam tentang apapun juga. Yang harus Anda lakukan selain komunikasi adalah selalu melihat sisi positif dari seorang suami, bukannya berprasangka buruk.

Sulit adaptasi juga bisa disebabkan oleh hal yang kedua, yaitu campur tangan orang tua. Ketika seseorang menikah, tanggung jawab penuh tentang jalannya rumah tangga adalah suami dan istri, bukan lagi orang tua. Karena campur tangan orang tua malah bisa berakibat tidak baik bagi pernikahan Anda. Terlebih jika ada orang tua yang malah membuat pertengkaran atau masalah suami-istri semakin panas. Jadi, ketika Anda dan suami mempunyai masalah, selalu cari solusi berdua, bicarakan berdua secara baik-baik dan tanpa campur tangan siapapun. Anda adalah dua orang yang mengenal betul apa yang sedang terjadi dengan hubungan Anda dan paling mengenal jalannya pernikahan, jadi Anda berdualah yang harus menyelesaikannya sendiri. Komunikasikan apa yang Anda inginkan dan apa saja yang Anda pikirkan dan khawatirkan. Hal ini akan membuat hubungan Anda dan suami semakin erat karena Anda dan suami akan semakin saling mengenal lebih mendalam.

Ketiga, “kita” bukan “saya”. Sudut pandang yang Anda dan suami harus segera diubah ketika sudah memasuki dunia pernikahan. Segala sesuatu sekecil apapun harus dipikirkan dan dilakukan berdasarkan kepentingan bersada, bukan lagi untuk kepentingan sendiri-sendiri. Ketika sudah menikah, hilangkan sudut pandang “saya” dang anti dengan “kita”. Pasangan yang masih belum bisa beradaptasi dengan dunia pernikahan biasanya akan tetap memprioritaskan keinginan pribadi daripada kepentingan bersama. Hal inilah yang harus Anda jauhi. Bukan berarti Anda tidak mempunyai ruang gerak sebagai individu lagi, tetapi ini seperti membuat Anda berdua menjadi satu paket yang harus seiring sejalan untuk bisa sampai apda tujuan pernikahan.

Sulit adaptasi juga bisa disebabkan oleh hal yang keempat, yaitu menyinggung budaya. Separah apapun Anda bersitegang, jangan pernah menyinggung tentang latar belakang dan budayanya. Karena Anda harus tahu bahwa hal itu hanya akan membuatnya sakit hati dan bahkan tidak terima. Lebih parahnya lagi, hal itu hanya akan mengakibatkan jalur perseturuan dengan suami dan juga dengan seluruh anggota keluarganya. Jika sudah begitu, keharmonisan keluarga lah yang harus Anda pertaruhkan.

Kelima, perbedaangayahidup. Hal ini biasanya terjadi pada pasangan yang masih tinggal dengan mertua. Tetapi walaupun Anda merasa sulit untuk beradaptasi, Anda harus tetap menghormati mertua Anda sebagai orang yang lebih tua.