Mau Menikah? Pikirkan Beberapa “Peraturan” Berikut!

23 October 2012 | 01:44

Peraturan menikah memang bukan merupakan sesuatu yang tertulis, tetapi sebaiknya dijalankan untuk mengarungi rumah tangga dengan istimewa. Peraturan menikah tidak tertulis yang selama ini sudah diyakini dan dipegang erat-erat adalah pasangan harus jujur, setia dan selalu ada di saat sudah dan senang. Tetapi selain tiga hal tersebut, ternyata masih ada beberapa aturan penting yang harus Anda taati, walaupun sepintas terlihat sepele dan sederhana. Tetapi bisa berdampak luar biasa besar.

Peraturan menikah

Peraturan #1, jangan mengkritik langsung orangtua pasangan. Walaupun mertua Anda melakukan sesuatu yang membuat Anda kesal, jangan langsung menumpahkan kekesalan dan omelan ke suami. Karena tindakan tersebut bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan, walaupun terkesan sepele. Karena biasanya suami Anda akan langsung bersikap defensive jika Anda mengkritik tindakan mertua Anda. Jadi, sebelum Anda marah dan mengomel pada suami Anda, cobalah untuk memahami dan tempatkan posisi Anda pada posisinya.

Peraturan #2, jujur. Jujur adalah salah satu jalan yang paling tepat dan harus Anda jalankan sebagai sebuah kewajiban pada suami. Terlebih menyangkut masalah masa lalu, misalnya sang mantan. Anda harus bisa terbuka dengan suami Anda. Tidak ada yang seharusnya disembunyikan tentang apapun di masa lalu. Di jaman sekarang, situs jejaring social bisa membuat Anda kembali berkomunikasi dengan sang mantan dan akhirnya akan membangkitkan kenangan masa lalu Anda. Dan walaupun Anda sudah tidak menaruh perasaan atau harapan apapun padanya, sebaiknya Anda tidak merahasiakannya dari suami Anda. Karena satu kebohongan kecil akan memicu kebohongan selanjutnya yang lebih besar.

Peraturan menikah #3, stop menasehati dan mengoreksi. Ketika pasangan Anda mengajak Anda berdiskusi dan mengobrol tentang masalah yang sedang menimpanya, sebaiknya Anda tidak ikut-ikutan mengoreksi dan mengguruinya. Karena setiap orang yang mempunyai masalah hanya ingin didengarkan dan didukung, bukan digurui. Kebanyakan dari kita tidak sadar bahwa bantuan kita yang berupa nasehat itu justru bisa dianggap kritikan. Dan hal ini akan membuatnya merasa dipojokkan dan tidak nyaman. Yang paling penting dalam sebuah hubungan adalah masing-masing berkontribusi untuk memberikan kebahagiaan satu sama lain, nukan saling merasa “benar”.

Peraturan #4, berhenti mengerjakan semuanya sendiri. Mungkin Anda tidak setuju dengan hasil pekerjaan suami, tetapi bukan berarti Anda harus mengambil semua tugas itu sendiri. Misalnya menyetrikan pakaian, mencuci baju, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Hal ini hanya akan membuat Anda kelelahan. Cobalah bekerjasama untuk saling mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anda bisa meminta bantuannya. Jika Anda tidak suka hasil pekerjaannya, coba beritahu dia dimana letak kesalahannya dengan perlahan. Hal ini akan membuat Anda dan pasangan merasa seperti satu tim yang memang harus bekerja bersama.

Peraturan menikah #5, jangan ungkit yang sudah lalu. Misalnya Anda pernah bertengkar dengan pasangan di masa lalu, jangan pernah mengungkitnya lagi. Karena jika hal ini terjadi berulang kali, acara ungkit-mengungkit inilah yang akan menjadi batu sandungan bagi hubungan Anda. Jika memang Anda dan pasangan sedang terlibat suatu diskusi dimana keduanya tidak menemukan kata sepakat, cukup akhiri saja diskusi tersebut dan hargai pendapat masing-masing.

Peraturan #6, jangan mempermasalahkan hal-hal kecil. Memang dalam hubungan suami-istrinya, akan banyak sekali hal yang bisa jadi bahan pertengkaran. Mulai dari kebiasaan pasangan yang tidak menaruh pakaian kotor di keranjang sampai kelapaannya dalam menutup pasta gigi. Pilihlah hal yang lebih penting untuk diperdebatkan dengan suami.

Peraturan #7, berhenti ungkap urusan pribadi ke public. Ranah pribadi memang seharusnya tidak diumbar di situs jejaring social yang kemungkinan besar bisa dilihat oleh banyak sekali kenalan dan keluarga Anda dan pasangan.

Peraturan #8, selalu prioritaskan pasangan. Tidak hanya diucapkan tetapi juga harus Anda realisasikan.